Tuesday, July 26, 2011

Seriously?

Saya tumbuh di dalam keluarga yang bersuku Jawa. Bisa dibilang, kami sangat erat dengan segala macam tradisi orang-orang Jawa. Saya akan bercerita tentang pengalaman saya kemarin, salah satu tradisi yang saya juga baru tahu. Mungkin bisa menambah wawasan juga hehehe.

Biasanya sebelum dilangsungkan manten, kalo adat Jawa kan biasanya ada acara siraman. Kebetulan, minggu lalu saudara jauh saya kemarin melangsungkan pernikahan. Dan saya ikut hampir semua acaranya, termasuk siraman dan midodareni. Bahkan saya (lagi-lagi) jadi kembar mayang.

Setelah acara siraman kemarin, ternyata ada tradisi agar para lajang membasuh wajah mereka dengan air yang dipakai buat siraman. Awalnya sih saya nggak mau, buat apa juga. Karena dipaksa, ya sudah, saya antri nunggu giliran cuci muka, karena saudara jauh saya masih banyak yang lajang. Lalu saya tanya ibu saya itu buat apa. Beliau bilang, biar deket jodoh.

Oke, saya maklum. Terserah deh. Saya juga sebenernya ga seberapa percaya sama yang kayak gitu.

Besok waktu acara resepsi, ya sudah saya pake kebaya plus sanggul. Dan semua om, tante, pakde, bude pada pangling liat saya. Katanya saya cantik banget :"> Bahkan ibu dan adik saya hampir nangis (?)

Bukan itu sih intinya. Ceritanya begini, waktu acara resepsinya selesai, kedua mempelai itu kan turun dari pelaminan. Tau kan kalo biasanya penganten itu pake hiasan yang melati-melati gitu? Biasanya sih diiket di kerisnya mempelai cowok atau jadi hiasan rambutnya yang cewek. Waktu kedua mempelai itu lewat di depan kami, si mami langsung nyuruh mama buat ngambil melati dari sana. Sampai dua kali coba ngambilnya dan ambilnya banyak banget. Saya tanya ke adek, buat apa sih ngambil gituan. Adek bilang, biar cepet nikah kali. Nggak percaya, langsung mastiin ke mami. Beliau bilang, "Ya, biar kamu cepet nikah."

Like, seriously? -________-

Bahkan sampai sekarang si mama nyuruh saya buat nyimpen melati di dompet. Masih ada tuh di sana.

Apa ibu saya saking desperatenya anaknya ga pernah malem mingguan sampe kayak gitu? Apa ibu saya ingin segera menimang cucu? *brb nangis di pojokan*

Yah, ini mungkin tradisi dari daerah saya. Saya sendiri juga nggak tau itu beneran apa nggak. Jodoh di tangan Tuhan. Tapi tetap, cita-cita saya salah satunya biar bisa jadi alasan di balik senyumannya. #eaaa

Sunday, July 10, 2011

Jleb

weheartit.com

"...Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian." (Raditya Dika; 2010)

Saturday, July 9, 2011

July 9

weheartit.com

"Do not lose hope on me."

Satu kalimat yang benar-benar menggambarkan keadaan saya sekarang. Satu kalimat yang, menurut saya, dapat diinterpretasikan dalam banyak hal.

Pertama, tentang masalah akademik. Lagi galau hasil ujian perbaikan anatomi yang menentukan apakah saya harus ikut semester pendek atau tidak. Benar-benar membuat saya frustasi dan hampir putus asa untuk kuliah di jurusan ini. Tapi entah kenapa, pada saat yang tak diduga, Tuhan selalu membukakan jalan agar saya tetep kuat kuliah di sini. Seakan-akan FK berkata, "do not lose hope on me."

Kedua, kata-kata ini saya tujukan buat seseorang. Halah, kayak ada aja yang nunggu saya di luar sana hahaha. Nggak tau sih, tapi kalo ada yang ngerasa, cuma mau bilang, "do not lose hope on me."

Wednesday, June 29, 2011

Selamat Tinggal, Juni

Tidak terasa ya dalam beberapa jam lagi kita akan menginjak bulan ketujuh di tahun ini. Terutama bulan Juni ini entah mengapa berjalan sangat sangat cepat. Cukup banyak kejadian juga, banyak canda tawa. Seharusnya bulan Juni ini bisa ditutup dengan senyuman. Sayangnya hari ini air mataku sudah nggak bisa ditahan...

Hari ini UAS terakhir, ujian Ilmu Kesehatan Masyarakat. Mata kuliah yang selalu disepelekan oleh kami hahaha. Sehari sebelumnya pun aku sudah tak membuka buku sama sekali. Pada akhirnya saat ujian, aku mengandalkan jawaban dari teman dan mengisi waktu ujian dengan menggambar ayam di kertas soal. Bravo!

Tapi hari ini juga pengumuman ujian anatomi paket 3 dan ketrampilan medik. Sudah bisa diduga, anatomi lagi dan lagi ikut ujian perbaikan. Tramed juga sudah diperkirakan tersandung di pos pemeriksaan otot dan harus ngulang di pos itu. Kecewa sih sudah jelas. Tapi juga menyesal nggak akan bikin nilaiku kembali. Walaupun jujur, di dalam hati rasanya kok aku nggak pantes jadi dokter. Anatomi selalu ikut perbaikan walaupun rasanya udah berusaha mati-matian. Apalagi tramed, dasarnya kita nanti ketemu pasien. Begini saja kok ikut ujian perbaikan, gimana aku nanti ketemu sama pasien?

Sudah gitu tadi sempet ada konflik sama mama. Oke, mama marah-marah di telpon, di bbm. Bikin pengen nangis juga rasanya. Untung masalahnya sekarang udah selesai, walaupun nyampe rumah suasananya masih agak awkward. Apalagi waktu denger aku kena UP ini. Beliau nggak ngomong banyak sih. Sepertinya antara kecewa, prihatin, kasihan sama aku ._.

Begitulah cerita di hari terakhir Juni. Sudah ikhlas dengan apa yang terjadi hari ini. Alhamdulillah aku dapat tersenyum malam ini.


Thursday, June 23, 2011

Renungan Hari Ini

Tinggal tiga. Ya, tiga kali ujian lagi yang menghadang sebelum masuk babak liburan. Ujian histologi kemarin? Alhamdulillah bisa dibilang memuaskan kalau melihat kondisi badan yang sepanjang ujian batuk-batuk dan menggigil kedinginan :&

Rencana Tuhan memang tak ada yang tahu. Siapa sangka waktu 4 jam sebelum ujian aku malah demam? Sedikit banyak pasti mengganggu konsentrasi. Tapi lagi-lagi tetap bersyukur karena diberikan kemudahan dan kelancaran. Walaupun begitu, pasti ada sedikit sesal di hati, "If I hadn't been sick, I would've done better."

Pada akhirnya, sepulang dari ujian, aku langsung hibernasi sampai besok paginya. Demam cukup tinggi dan batuk ga sembuh-sembuh bikin lemes buat ngapa-ngapain. Seharian ini pun isinya cuma tidur, makan, tidur lagi, nonton TV. Belum belajar sama sekali untuk anatomi (haha soon, right after I finish making this post, I promise!) Malah akhirnya menghabiskan banyak waktu dengan merenung...

Sebenarnya sangat buanyak sih yang aku renungkan. Cukup dua lembar kertas folio saja sih, hanya aku terlalu malas untuk menulisnya. Contohnya saja betapa beratnya menjadi mahasiswa kedokteran. Serius, sangat berat. Tapi aku selalu percaya, something worth doing isn't ever easy. Aku bayangin, sekarang kami masih struggle dengan ujian-ujian, siapa tahu, dalam 10-15 tahun mendatang, kami semua sudah menjadi dokter spesialis yang handal. Yang bisa mengobati pasien dengan baik, dengan ikhlas tanpa embel-embel mencari harta. Insya Allah.

Lalu berpikir bahwa mungkin aku bukanlah teman yang baik. Ketika kamu ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Sepertinya aku kurang menghargai orang lain. Entahlah... Yang jelas, maaf ya untuk semuanya.

Dan yang terakhir, orang yang ada di pikiran dalam tiga minggu terakhir, sepertinya sosok itu sudah mulai menghilang dari peredaran. Aku sendiri juga heran, betapa cepat waktuku untuk mengaguminya. Terlalu cepat kalau dibandingkan dengan seseorang yang aku kagumi sebelumnya. Bertahan 8 bulan lho. Padahal aku belum memulai apapun untuk mengenali sosok itu. Kenalan saja belum hahaha :p

Sepertinya Tuhan akan memberikan yang lebih baik. Semoga saja.